UPAYA MENGATASI MISKONSEPSI PELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MODEL PROBLEM-BASED LEARNING

Pendidikan di Indonesia sedang berkembang menyesuaikan dengan perkembangan zaman Abad 21. Untuk itu sebagai guru dituntut untuk dapat memberikan pembelajaran yang mampu memberikan pemahaman bermakna dan keterampilan terutama soft skill untuk menghadapi Abad 21. Namun, tantangan mengenai kesulitan dan kesalahan konsep peserta didik dalam memahami materi matematika menjadi penghambat dalam kegiatan pembelajaran. Perlu adanya perencanaan pembelajaran yang mampu meningkatkan aktivitas belajar peserta didik.

Faktanya, pelajaran matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang dihindari oleh kebanyakan peserta didik karena dianggap pelajaran yang sulit. Peserta didik memiliki motivasi belajar yang rendah terutama pada pelajaran matematika. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya motivasi peserta didik diantaranya yaitu kesadaran dan kebutuhan akan belajar masih kurang, peserta didik merasa pelajaran matematika itu sulit, selain itu pembelajaran yang disajikan oleh guru kurang menarik, penggunaan metode pembelajaran kurang bervariasi dan inovatif, sehingga peserta didik merasa bosan saat mengikuti pelajaran. Peserta didik belum memiliki cita-cita dan impian yang jelas untuk jenjang selanjutnya atau kehidupan mendatang. Peserta didik juga beranggapan bahwa belajar hanya untuk mencari kerja, sehingga menyimpulkan pelajaran matematika tidak banyak diperlukan dalam dunia kerja.

Pada saat belajar, dibutuhkan konsentrasi dan fokus agar dapat menyerap materi dengan baik. Konsentrasi adalah cara kita mempertahankan pikiran dari hal-hal luar yang mengganggu. Sedangkan fokus, memusatkan pikiran pada suatu hal yang sedang dihadapi atau hanya memikirkan hal yang berhubungan dengan masalah yang sedang dihadapi. Pada saat belajar dibutuhkan fokus dan konsentrasi yang baik agar dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru. Beberapa peserta didik dapat dengan mudah fokus dan berkonsentrasi paa saat mengikuti pelajaran, namun juga ada sebagian yang kesulitan dalam berkonsentrasi. Penyebabnya bisa karena faktor internal, peserta didik mengalami gangguan susah untuk konsentrasi. Sedangkan faktor eksternal, penyebabnya bisa dari teman sekelas yang usil sehingga memecah konsentrasi, dan asik bermain gawai bahkan disaat pembelajaran berlangsung.

Pada saat pembelajaran berlangsung dapat diamati perkemangan dan keaktifan peserta didik. Sebagian peserta didik belum memiliki rasa percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya atau mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan alasan takut salah. Rasa percaya diri peserta didik dapat terlihat pada proses pembelajaran, dimana peserta didik kurang berani menyampaikan pendapat. Selain itu peserta didik belum bisa mengeluarkan kemampuan yang ada pada dirinya sehingga peserta didik mudah pasrah dengan kemampuannya. Apalagi dengan kemajuan teknologi, peserta didik cenderung mengandalkan jawaban dari internet atau dari aplikasi belajar. Hal ini mengakibatkan peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran.

Dari fakta diatas, peserta didik mengalami kesulitan dan kesalahan konsep saat mempelajari matematika. Harapannya, proses pembelajaran matematika dapat berjalan menyenangkan dan penuh makna sehingga dapat meningkatkan pemahaman serta mengatasi kesulitan belajar materi matematika. Dengan demikian, prestasi belajar peserta didik dapat meningkat.

Berdasarkan fakta dan harapan tersebut, pembelajaran yang disajikan oleh guru masih monoton yaitu masih menggunakan metode ceramah atau teacher center. Untuk itu perlu strategi pembelajaran yang dapat memberikan motivasi belajar bagi peserta didik. Desain pembelajaran yang memungkinkan untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan konsep peserta didik dalam memahahami materi matematika adalah model pembelajaran Problem-based Learning (PBL). Problem-based Learning merupakan serangkaian pembelajaran yang diawali dari adanya permasalahan kemudian dipelajari untuk dicarikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Dengan memecahkan masalah maka siswa diajak untuk melatih keterampilan berpikir kritis. Menurut Darwati dan Purana (2021), Problem-based Learning (PBL) merupakan salah satu model pembelajaran yang menuntut aktivitas mental peserta didik untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan. Melalui PBL peserta didik dapat mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan yang dimaksud diantaranya berpikir kritis, inovatif, dan kreatif. Ketika PBL berlangsung, peserta didik dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah sendiri dan bekerja mandiri, sehingga peserta didik dapat mengembangkan berpikir kritisnya. Peserta didik dapat dilatih mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan pola berpikir kreatif.

Selain itu dengan LKPD berbasis kontekstual, peserta didik disajikan permasalahan nyata sehingga peserta didik dapat mengetahui penerapan materi matematika dalam kehidupan sehari. Pembelajaran dengan LKPD berbasis kontekstual, peserta didik dituntut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang disajikan bersama dengan kelompok. Hal ini akan terjalin komunikasi dari peserta didik satu dengan yang lain dalam mengemukakan ide-ide pemecahan masalah. Sehingga peserta didik aktif berdiskusi dan saling cross check jawaban yang kemudian akan menambah pemahaman materi dan mengatasi kesulitan belajar. Pembelajaran seperti ini dapat memberikan pemahaman bermakna bagi peserta didik.

Pembelajaran dengan model Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual dapat menjadi alternatif solusi untuk mengatasi kesulitan dan kesalahan konsep peserta didik dalam memahami materi matematika. Dari desain pembelajaran ini memberikan manfaat bagi guru dan peserta didik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa peserta didik dapat meningkatkan pemahaman materi matematika dengan diskusi yang terjalin dalam kelompok. Melalui model pembelajaran PBL, peserta didik dapat saling bertukar pikiran dan berbagi ide maupun gagasan dalam pemecahan masalah yang ada di LKPD. Pembelajaran berpusat pada peserta didik sehingga dapat mendorong kerjasama yang efektif antar individu dalam kelompok. Peserta didik dituntut untuk aktif dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan rasa percaya diri yang akan berdampak pada meningkatnya pemahaman materi peserta didik. Selain itu, dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik karena pembelajaran berorientasi pada kegiatan peserta didik. Proses pembelajaran pun menjadi lebih terstruktur sesuai dengan sintaks model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran Problem-based Learning (PBL).

Sebagai guru, saya tertantang untuk menerapkan model pembelajaran Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual ini untuk dapat mengatasi masalah kesulitan dan pemahaman konsep peserta didik. Langkah yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut antara lain: mengidentifikasi permasalahan yang ada dalam kegiatan pembelajaran, memilih satu permasalahan dan menemukan solusinya, merancang aksi, melaksanakan aksi, dan melakukan refleksi dan tindak lanjut. Langkah-langkah tersebut ternyata memiliki tantangan tersendiri.

Penerapan model pembelajaran Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual memiliki tantangan yang tidak hanya dihadapi oleh guru tetapi juga dihadapi oleh peserta didik. Peserta didik belum terbiasa mendiskusikan permasalahan secara mandiri dengan kelompok karena terbiasa dengan pembelajaran konvensional yaitu ceramah dari guru. Beberapa peserta didik masih belum berkonsentrasi dengan penuh terhadap materi pelajaran. Sehingga guru kesulitan memotivasi peserta didik secara menyeluruh saat pembelajaran berlangsung. Perlu persiapan lebih saat merancang dan menggunakan model pembelajaran yang baru agar sesuai dengan alokasi waktu. Selain itu, guru masih kesulitan mengaitkan materi dengan permasalahan kontekstual dunia nyata.

Upaya aksi untuk menghadapi tantangan dalam penerapan desain pembelajaran tersebut terdiri atas 3 (tiga) tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Dari ketiga tahapan ini diharapkan mampu menjadikan pembelajaran Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual lebih berkualitas. Sehingga ketiga tahapan ini tidak boleh ada yang terlewatkan.

Tahap perencanaan dilakukan untuk menyusun gambaran dari proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Perencanaan ini meliputi, menganalisis kebutuhan dan karakter perserta didik, membuat modul ajar, membuat LKPD berbasis kontekstual, bahan ajar berbasis PBL, media pembelajaran seperti powerpoint materi, membuat instrumen dan rubrik penilaian. Pada tahap perencanaan, guru menggunakan beberapa aplikasi yang disesuaikan dengan pembelajaran abad 21 yang berbasis TPACK diantaranya quizziz untuk tes diagnostik kognitif peserta didik dan aplikasi mentimeter untuk repleksi pembelajaran.

Tahap pelaksanaan, dilakukan setelah rencana aksi selesai dibuat. Tahap pelaksanaan dijelaskan sebagai berikut.
a. Orientasi peserta didik pada masalah, yakni peserta didik mengamati penjelasan materi terkait materi yang akan dibahas, mengamati contoh-contoh penyelesaian masalah kontekstual yang berkaitan dengan materi, dan peserta didik mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan.
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, yakni guru membagi peserta didik secara heterogen, kemudian peserta didik mendiskusikan permasalahan yang terdapat pada LKPD dengan kelompoknya.
c. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok, yakni peserta didik mengumpulkan informasi yang relevan untuk memecahkan permasalahan yang ada di LKPD, peserta didik memanfaatkan media yang ada seperti: buku, bahan ajar, atau internet sebagai bahan referensi, peserta didik bertukar informasi dalam kelompok berkaitan dengan permasalahan yang diangkat sehingga diperoleh sebuah pengetahuan baru yang dapat dijadikan sebagai bahan diskusi, dengan metode ilmiah yang terdapat pada buku pegangan peserta didik pada lembar kerja yang disediakan, dan guru mengamati jalannya diskusi dan membimbing peserta didik bila ada hal-hal yang belum dipahami.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, yang meliputi peserta didik mengolah informasi yang telah diperoleh berdasarkan hasil diskusi, peserta didik diminta menuliskan jawaban dari pertanyaan yang muncul pada lembar LKPD, peserta didik menyiapkan untuk presentasi, dan guru mempersilahkan kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
e. Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, yakni kelompok lain memberikan tanggapan dan masukan terhadap presentasi untuk melengkapi informasi dan memperkuat penanaman konsep, kemudian guru dan peserta didik melakukan penguatan dan menarik kesimpulan dari materi yang dipelajari.

Tahap evaluasi, dilakukan di akhir pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi diberikan pada peserta didik untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta didik akan materi yang telah dipelajari. Evaluasi bisa dilakukan menggunakan tes untuk mengukur dimensi pengetahuan serta lembar penilaian observasi diri dan antar teman untuk mengetahui pelaksanaan problem-based learning. Evaluasi juga dilakukan oleh guru sendiri untuk menilai apakah pembelajaran sudah sesuai rencana yang dilakukan. Evaluasi jalannya pelaksanaan pembelajaran juga bisa dilakukan oleh observer teman sejawat.

Dari ketiga tahapan yang telah dilalui, pembelajaran denga model pembelajaran Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual berjalan dengan lancar. Hal ini bisa terwujud karena dukungan dari berbagai pihak. Guru berkolaborasi dan berkoordinasi dengan kepala sekolah, waka kurikulum, wali kelas, teman sejawat, dan juga peserta didik kelas X-7 SMAN 2 Magelang. Dosen pembimbing dan guru pamong yang memberikan saran serta masukan mengenai model pembelajaran inovatif yang sesuai dengan pemenuhan keterampilan abad 21. Kepala sekolah memberikan izin, dukungan dan motivasi kepada guru untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan PPG. Teman sejawat membantu dalam pengambilan video praktik pembelajaran dan memberikan masukan mengenai rencana pembelajaran yang dibuat. Peserta didik berperan aktif dalam pelaksanaan praktik pembelajaran.

Refleksi mengenai hasil dan dampak pembelajaran perlu dilakukan untuk mengetahui tindak lanjut. Dampak dari langkah-langkah yang sudah dilakukan menggunakan model pembelajaran Problem-based learning dengan LKPD berbasis kontekstual antara lain membuat peserta didik lebih antusias dan tidak bosan dalam pembelajaran, peserta didik secara aktif menyelesaikan masalah yang disajikan dalam LKPD bersama dengan kelompoknya dan antusias pada saat presentasi hasil diskusi. Hal ini terbukti meningkatnya aktivitas peserta didik saat diskusi, tidak malu bertanya dan berani mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas. Hal ini berarti pemahaman peserta didik akan materi yang diberikan meningkat sehingga memberikan penguatan konsep bagi peserta didik untuk mengatasi kesulitan belajar.

Dengan penerapan model pembelajaran Problem-based learning dengan LKPD berbasis kontekstual ini, peserta didik nampak aktif mengikuti rangkaian pembelajaran dan aktif dalam kegiatan kelompok sehingga mampu meningkatkan pemahaman dan mengenai materi yang dipelajari. Selain itu proses presentasi hasil diskusi juga dapat mengurangi miskonsepsi peserta didik mengenai materi karena masalah yang disajikan dalam LKPD dibahas bersama dan dikonfirmasi oleh guru.

Pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem-based Learning (PBL) dengan LKPD berbasis kontekstual secara umum efektif mampu mengatasi kesulitan dan kesalahan konsep peserta didik dalam mempelajari materi matematika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional atau teacher center. Hal ini juga bisa dilihat pada respon peserta didik. Peserta didik merasa senang dengan pembelajaran menggunakan model ini, karena mereka bisa mengeksplorasi materi bersama dengan kelompok dan saling bertukar pikiran saat diskusi dari permasalahan yang diberikan oleh guru. Selain itu pemahaman materi peserta didik menjadi meningkat dan mampu mengatasi kesulitan pemecahan masalah. Peserta didik menyatakan bahwa pembelajaran seperti ini dapat melatih berpikir kritis, dapat melatih komunikasi, serta kerjasama antar teman dalam satu kelompok maupun teman sekelas.

Keberhasilan dari strategi yang dilakukan ini tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama dari semua pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang inovatif dengan model Problem-based Learning (PBL) mampu meningkatkan pemahaman peserta didik karena peserta didik secara aktif saling memberikan ide pada saat diskusi kelompok untuk memecahkan permasalahan yang disajikan dalam LKPD. Penggunaan sarana dan prasarana yang memadai turut mendorong kelancaran proses pembelajaran yang guru lakukan. Pembelajaran dari keseluruhan proses yang telah dilaksanakan dapat mengatasi kesulitan dan kesalahan konsep pada materi yang dipelajari, meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, dan pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna. Evaluasi, dukungan dan respon berbagai pihak sangat diperlukan untuk memotivasi agar pembelajaran dapat dilakukan lebih baik lagi.

Rencana tindak lanjut berdasarkan penerapan Problem-based learning dengan LKPD berbasis kontekstual penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Setelah menyelesaikan kegiatan pendalaman materi, pengembangan perangkat pembelajaran dan PPL, saya memiliki keinginan untuk memperbaiki rencana pembelajaran dari mulai modul ajar, pelaksanaan pembelajaran hingga instrumen penilaian yang sesuai dengan materi dan karakteristik peserta didik, Meningkatkan ketrampilan serta mencari inovasi-inovasi baru dengan mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri dan menambah kajian literatur yang disesuaikan dengan perkembangan pendidikan, dan mulai menggunakan model pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik materi dan peserta didik. Walaupun Problen-based learning memiliki kelebihan tetapi dalam pelaksanaannya terjadi kekurangan yang menjadi pelajaran berharga bagi guru dan siswa untuk bersama-sama berkolaborasi untuk mewujudkan Pendidikan yang berkualitas. Hal ini guna menyongsong abad 21 dan mewujudkan pendidikan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *